INFOTANGERANG.ID- Sebanyak 46 wilayah di tanah air, termasuk Tangerang dinyatakan mengalami Kejadian Luar Biasa atau KLB Campak 2025.
Angka tersebut merupakan data terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 24 Agustus 2025 yang dipicu oleh menurunnya cakupan imunisasi campak dalam tiga tahun terakhir.
Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes, Prima Yosephine, menjelaskan bahwa KLB Campak 2025 akibat tren penurunan cakupan imunisasi campak sudah berlangsung sejak 2023.
Pada tahun 2022, cakupan imunisasi campak MR1 sempat mencapai 102,2%—namun turun menjadi 95,4% di 2023, 92% di 2024, dan anjlok drastis menjadi hanya 45,1% per Agustus 2025.
“Dampaknya, terjadi peningkatan kasus campak Rubella dan munculnya KLB di berbagai daerah,” ungkap Prima dalam konferensi pers, Selasa 27 Agustus 2025.
Wilayah Terpapar KLB Campak 2025
KLB campak ini tercatat di 42 kabupaten/kota yang tersebar di 14 provinsi, termasuk wilayah padat penduduk di Pulau Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi. Berikut beberapa wilayah terdampak:
Pulau Jawa:
- DKI Jakarta: Jakarta Barat, Jakarta Utara
- Banten: Serang, Tangerang, Tangsel
- Jawa Barat: Garut, Cirebon
- Jawa Tengah: Banyumas, Surakarta
Jawa Timur:
- Surabaya,
- Sidoarjo
- Jember
- Lumajang
- Pamekasan
- Sumenep, dll
DI Yogyakarta:
- Sleman
Sumatera & Bali:
- Sumatera Utara: Medan, Deli Serdang, Samosir, Pematang Siantar, dll
- Sumatera Barat: Agam, Sijunjung
Bali:
- Karangasem
Kalimantan, Sulawesi, Gorontalo:
- Kalimantan Timur: Balikpapan, Bontang
- Kalimantan Utara: Nunukan
- Sulawesi Selatan: Maros
- Sulawesi Tengah: Tojo Una-Una
- Gorontalo: Boalemo, Kota Gorontalo
Campak 5 Kali Lebih Menular dari Covid-19
Ketua Umum IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), mengingatkan bahwa campak bukan penyakit ringan.
Justru, penularannya jauh lebih ganas dibanding Covid-19.
“Campak adalah penyakit yang sangat menular, empat sampai lima kali lebih menular dari Covid. Bila cakupan imunisasi turun hingga 60%, itu cukup untuk memicu KLB besar-besaran,” tegas Piprim.
Ia menambahkan, untuk melindungi masyarakat, cakupan imunisasi harus berada di atas 95% agar terbentuk herd immunity (kekebalan komunitas). Penurunan partisipasi vaksinasi menjadi celah besar bagi virus untuk menyebar, terutama di wilayah dengan layanan kesehatan terbatas.
Menurut Piprim, setiap munculnya KLB penyakit menular adalah sinyal jelas bahwa masih ada gap besar dalam sistem imunisasi nasional. Campak seharusnya bisa dicegah melalui vaksin yang tersedia dan murah, namun masih banyak anak Indonesia belum mendapatkannya secara lengkap.
“KLB ini bukan hanya masalah lokal, ini sudah menjadi masalah nasional,” tambahnya.
KLB campak 2025 di 46 wilayah Indonesia menjadi pengingat keras bahwa vaksinasi bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Penurunan cakupan vaksin bisa membuka pintu bagi berbagai wabah lama untuk bangkit kembali.
