INFOTANGERANG.ID– Para ilmuwan kembali memajukan Jam Kiamat atau Doomday Clock menjadi 85 detik menujuju tengah malam, karena menilai dunia sedang berada di fase paling rawan dalam sejarah moder.

Digesernya Jam Kiamat menjadi empat detik lebih dekat dibandingkan tahun sebelumnya ini dipicu karena ketegangan antarnegara besat yang terus meningkat.

Terlebih dari itu, melemahnya kerja sama internasional membuat risiko kehancuran global kian nyata.

Jam Kiamat sendiri adalah sebuah jam simbolik yang dibuat untuk menunjukkan seberapa dekat umat manusia dengan kehancuran global.

Hal tersebut didasarkan pada efek dari perang nuklir, krisi iklim, ancaman biologi, dan risiko kecerdasan buatan, serta disinformasi.

Keputusan untuk merubah Jam Kiamat tersebut diumumkan pada Selasa (27/1/2026) oleh Bulletin of the Atomic Scientists, organisasi ilmiah yang sejak lama memantau ancaman eksistensial terhadap umat manusia.

Tengah malam pada Jam Kiamat melambangkan kehancuran global, sementara jarak waktu yang tersisa mencerminkan tingkat bahaya yang dihadapi dunia.

Pemicu Pergeseran Jam Kiamat Jadi 85 Detik Menuju Tengah Malam

Melansir dari Euwonews, pengumuman pergesaran Doomsday Clock ini disampaikan setahun setelah masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump.

Bulletin of the Atomic Scientists menilai selama ini Donald Trump telah melanggar norma-norma global, termasuk memerintahkan serangan sepihak dan menarik diri dari sejumlah organisasi internasional.

Selain itu, para ilmuwan juga menilai hubungan antara negara-negara besar lainnya termasuk Amerika Serikat, Rusia, dan China semakin bersifat konfrontatif dan nasionalistis.

Kompetisi kekuatan global yang mengedepankan pendekatan “menang-kalah” dinilai mempersempit ruang dialog dan memperlemah mekanisme kerja sama internasional yang krusial.

“Pemahaman global yang dibangun dengan susah payah kini mulai runtuh. Hal ini mempercepat persaingan kekuatan besar dan melemahkan upaya bersama untuk menekan risiko perang nuklir, krisis iklim, hingga ancaman teknologi baru,” demikian pernyataan dewan ilmuwan yang menetapkan waktu Jam Kiamat, yang melibatkan delapan peraih Nobel.

Dewan Jam Kiamat juga menyoroti berakhirnya perjanjian pengurangan senjata nuklir New START antara Amerika Serikat dan Rusia yang dijadwalkan habis dalam waktu dekat.

Tanpa kesepakatan lanjutan, risiko perlombaan senjata nuklir dinilai semakin terbuka.

Selain itu, dorongan pengembangan sistem pertahanan rudal canggih seperti proyek “Golden Dome” disebut berpotensi memperluas militerisasi, bahkan hingga ke ruang angkasa.

Situasi ini dinilai mempersempit peluang terciptanya stabilitas keamanan global jangka panjang.

Tak hanya ancaman militer, krisis iklim juga menjadi perhatian utama.

Kekeringan, gelombang panas ekstrem, dan banjir besar yang semakin sering terjadi menunjukkan kegagalan kolektif negara-negara dunia dalam mengambil langkah mitigasi yang signifikan.

Di sisi lain, penyebaran disinformasi disebut sebagai “krisis di balik semua krisis”.

Jurnalis investigatif sekaligus peraih Nobel Perdamaian, Maria Ressa, menggambarkan situasi saat ini sebagai Armageddon informasi, di mana kebohongan menyebar lebih cepat dibandingkan fakta dan memperdalam polarisasi masyarakat global.

Jam Kiamat Bisa Diputar Mundur

Meski gambaran yang disampaikan terkesan suram, para ilmuwan menegaskan bahwa Jam Kiamat bukanlah vonis akhir.

Jarum jam masih dapat dijauhkan dari tengah malam jika para pemimpin dunia bersedia bertindak secara kolektif.

Upaya tersebut mencakup pengurangan risiko nuklir, penanganan serius terhadap perubahan iklim, serta pengendalian teknologi baru seperti kecerdasan buatan dan bioteknologi agar tidak disalahgunakan.

Bulletin of the Atomic Scientists lahir pada penghujung 1945 atas inisiatif sejumlah ilmuwan terkemuka, termasuk Albert Einstein, Robert Oppenheimer, serta para fisikawan Proyek Manhattan seperti Eugene Rabinowitch dan Hyman Goldsmith.

Sejak dua tahun kemudian, tepatnya pada 1947, organisasi ini memperkenalkan sebuah jam simbolik sebagai pengingat akan risiko besar yang dapat timbul dari keputusan manusia, termasuk kemungkinan tindakan yang berujung pada kepunahan umat manusia.

Sejarah mencatat, Jam Kiamat pernah berada di posisi teraman pada tahun 1991, yakni 17 menit menuju tengah malam, saat ketegangan global mereda pasca-Perang Dingin.

Kini dalam beberapa tahun terakhir, waktu tersisa dari Jam Kiamat berubah dari satuan menit menjadi hitungan detik sebagai pengingat bahwa waktu untuk bertindak semakin sempit.

Pilihan kebijakan global hari ini akan menentukan seberapa jauh umat manusia mampu menjauh dari ambang kehancuran.

Dapatkan Berita Terbaru lainya dengan Mengikuti Google News Infotangerang
sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Infotangerang
Follow
Iis Suryani
Editor
Iis Suryani
Reporter