INFOTANGERANG.ID- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan bahwa Virus Nipah telah bersirkulasi secara alami di Indonesia, terutama pada populasi kelelawar buah yang menjadi reservoir alaminya. Temuan ini menegaskan pentingnya kewaspadaan publik, tanpa harus memicu kepanikan berlebihan.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti, menjelaskan bahwa hasil penelitian molekuler menunjukkan keberadaan genom Virus Nipah pada sampel kelelawar yang dikumpulkan dari beberapa wilayah strategis, mulai dari Sumatera Utara, Kalimantan Barat, hingga Pulau Jawa.
“Yang terpenting adalah masyarakat memahami karakter virus ini dengan benar, sehingga tidak terjadi kepanikan, namun tetap waspada,” ujar Indi, dikutip dari laman resmi BRIN.
Virus Nipah Terdeteksi di Tiga Wilayah Besar Indonesia
Berdasarkan kajian ilmiah terbaru yang dipaparkan BRIN pada Jumat (30/01), deteksi Virus Nipah di Indonesia dilakukan melalui beberapa pendekatan ilmiah, dengan hasil sebagai berikut:
Kalimantan Barat
Studi serologis menemukan antibodi Virus Nipah pada 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus, menandakan paparan virus di alam liar.
Sumatera Utara
Melalui metode PCR, peneliti mengonfirmasi keberadaan genom Virus Nipah pada sampel saliva dan urin kelelawar.
Pulau Jawa
Analisis genetik menunjukkan virus yang berkerabat dekat dengan isolat Virus Nipah dari Malaysia, lokasi wabah pertama pada tahun 1998.
Temuan ini memperkuat indikasi bahwa Virus Nipah telah lama beredar di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Mengenal Karakteristik Virus Nipah
BRIN juga memaparkan data teknis mengenai Virus Nipah agar masyarakat memahami tingkat risikonya secara proporsional:
- Penyebab: Virus dari genus Henipavirus
- Reservoir Alami: Kelelawar buah (Pteropus vampyrus dan Pteropus hypomelanus)
- Tingkat Kematian: Tinggi dan berpotensi menyebabkan wabah besar
Cara Penularan:
- Kontak langsung dengan hewan terinfeksi, terutama babi
- Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi urin atau saliva kelelawar
- Penularan antar manusia melalui cairan tubuh
Pengobatan: Hingga kini belum tersedia vaksin atau antivirus spesifik, penanganan masih bersifat suportif
Langkah Antisipasi yang Bisa Dilakukan Masyarakat
Sebagai upaya pencegahan mandiri, para peneliti mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam berinteraksi dengan satwa liar, antara lain:
Hindari Mengonsumsi Buah Bekas Gigitan
Buah dengan bekas gigitan berisiko terkontaminasi saliva kelelawar.
Masak Makanan Hingga Matang Sempurna
Terutama produk daging, termasuk daging babi, untuk mematikan potensi virus.
Tingkatkan Edukasi dan Kebersihan Lingkungan
Kurangi kontak langsung dengan kelelawar liar dan jaga kebersihan rumah dari sarang kelelawar.

