INFOTANGERANG.ID- Kebijakan work from anywhere (WFA) diprediksi akan mengubah pola klasik arus mudik Lebaran 2026.
Kepala Korp Lalu Lintas Polri, Agus Suryonugroho, menyebut skema kerja fleksibel tersebut berpotensi menggeser puncak kepadatan kendaraan saat Idul Fitri 1447 Hijriah.
Menurut Agus, keputusan pemerintah yang mengumumkan WFA saat arus mudik Lebaran 2026 menjadi langkah strategis dalam mendistribusikan waktu perjalanan pemudik.
“WFA ini sangat strategis. Oleh sebab itu, puncak arus mudik dan arus balik kemungkinan nanti ada pergeseran,” ujarnya.
Dengan fleksibilitas waktu kerja, masyarakat tidak lagi terkonsentrasi berangkat pada hari-hari tertentu saja. Pola pergerakan diperkirakan lebih tersebar, sehingga tekanan di titik-titik krusial bisa berkurang.
Prediksi Puncak Mudik Lebaran 2026: H-3 hingga 18 Maret 2026
Secara proyeksi awal, puncak arus mudik Lebaran 2026 diperkirakan terjadi pada 15 Maret 2026 atau H-3 Idul Fitri.
Namun, tidak menutup kemungkinan kepadatan tertinggi justru bergeser ke 18 Maret 2026.
Agus menegaskan, kepastian tanggal sangat bergantung pada hasil traffic counting atau pencacahan lalu lintas yang dilakukan secara real time.
“Nanti tergantung traffic counting. Yang jelas, WFA ini memudahkan rangkaian untuk mengurai pemudik, termasuk arus balik,” jelasnya.
Proyeksi 3,67 Juta Kendaraan ke Arah Trans Jawa dan Sumatera
Berdasarkan survei bersama Kementerian Perhubungan, proyeksi kendaraan yang akan melintasi exit tol menuju jalur Trans Sumatera dan Trans Jawa saat arus mudik mencapai sekitar 3,67 juta kendaraan.
Sementara itu, arus balik diperkirakan menyentuh angka 3,5 juta kendaraan.
Angka tersebut menjadi dasar penyusunan skenario rekayasa lalu lintas agar tidak terjadi penumpukan ekstrem di ruas-ruas utama.
Andalkan Integrasi CCTV, e-TLE Drone, dan Data e-Toll
Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan, Polri mengandalkan teknologi pemantauan terintegrasi. Sistem ini mencakup:
- Integrasi CCTV di berbagai command center jalur mudik
- Dukungan e-TLE drone untuk pemantauan udara
- Data transaksi e-toll sebagai basis analisis pergerakan kendaraan
Teknologi tersebut memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data, termasuk dalam penerapan rekayasa lalu lintas seperti contra flow maupun sistem one way.
“Teknologi ini bagian dari upaya mendapatkan data update untuk memutuskan bagaimana cara kita bertindak,” tegas Agus.
Lebaran selalu identik dengan pergerakan massal jutaan orang dalam waktu singkat. Tahun ini, dengan adanya WFA, pola itu diperkirakan lebih dinamis.
Namun satu hal tetap sama: kesiapan infrastruktur, ketepatan analisis data, dan disiplin pengendara menjadi faktor kunci agar perjalanan mudik berlangsung aman dan lancar.
Karena pada akhirnya, mudik bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan momen yang menuntut perencanaan matang, baik dari pemerintah maupun masyarakatnya.

