Tak Setuju Larangan Study Tour, Rektor UMT Amarullah: Jangan Ada Kejadian Baru Ramai Regulasi!

Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) Amarullah saat menanggapi larangan study tour paska kecelakaan maut bus SMK Depok di Subang, saat wawancara di kantornya, Rabu, 15 Mei 2024. Foto: Achmad Irfan/ Infotangerang

Infotangerang.id – Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) Ahmad Amarullah menyatakan tidak setuju dengan keputusan larangan sekolah menggelar study tour.

Hal itu disampaikan dia dalam menanggapi polemik kegiatan study tour sekolah buntut kecelakaan yang menimpa rombongan pelajar SMK Lingga Kencana Depok di Subang, Jawa Barat Sabtu, 11 Mei 2024 hingga menewaskan belasan siswa.

“Tentu kita cukup prihatin dengan berita kecelakaan di Subang. Semoga tidak terulang lagi, tapi harus ada langkah-langkah dari sekolah dan pihak terkait dalam menanggapi ini,” ujarnya saat ditemui di Kampus UMT, Cikokol, Kota Tangerang, Rabu, 15 Mei 2024.

Menurut Amarullah, pemerintah dalam menetapkan regulasi jangan selalu berlandaskan adanya insiden terlebih dahulu, melainkan harus sudah mengantisipasinya.

“Jadi, jangan ada kejadian baru ramai soal regulasi, harusnya sudah diantisipasi, bukan mengeluarkan SE larangan untuk itu. Itu kan merupakan metode pembelajaran di luar kelas,” katanya.

Praktisi pendidikan yang akrab disapa Bang Uwoh ini mengatakan, dirinya tidak setuju jika kegiatan study tour dilarang, hanya saja dalam pelaksanaannya memang perlu ada regulasi yang lebih rinci.

“Tinggal bagaimana pengaturannya lebih detil yang semuanya dirancang untuk mengutamakan faktor keselamatan sampai mungkin faktor pembiayaan. Ini kan terkait faktor kecelakaan di Subang, faktor keselamatan harus didorong, tapi soal regulasi kita selalu terlambat, karena soal ini kan melibatkan sejumlah pihak bukan hanya soal siswa dan orang tua saja,” jelasnya.

Menurutnya, pelaksanaan study tour bisa dilakukan dengan beberapa catatan yang mengutamatakan faktor keamanan dan keselamatan seperti kesiapan armada atau awak kendaraan hingga penentuan jarak.

“Pastikan bahwa tingkat ketahanan sopir jangan abai, jangan ada kelalaian sopir, kemudian mesti ada sekolah menggunakan bus sesuai dengan rekomendasi dinas terkait, jangan nanti tahu-tahu ada bus yang cuma sasisnya bagus tapi mesin hancur-hancuran,” ungkapnya. 

“Bahkan bila perlu ada surat keterangan dokter dari sopir bahwa dia punya ketahanan dan aspek kesehatan yang seharusnya dimiliki oleh seorang sopir,” tambah Bang Uwoh.

Dia menambahkan, kegiatan study tour juga tidak perlu dilaksanakan dengan jarak yang jauh dari sekolah. Misalnya siswa di Kota Tangerang yang tidak perlu ke luar daerah karena di wilayah ini sudah ada ruang-ruang pembelajaran.

“Tidak usah jauh-jauh, tapi yang dekat-dekat misal ke Pasar Lama ada vihara yang sudah ratusan tahun, ada masjid tua, tidak terlalu jauh kita bisa pakai bus Jawara tour city,” tuturnya.

Achmad Irfan Fauzy
Reporter