2 Perbedaan El Nino dan La Nina Serta Kondisinya di Indonesia, Waspada Kekeringan

Perbedaan El Nino dan La Nina

Infotangerang.id– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengungkapkan bahwa kondisi El Nino dan La Nina diperkirakan akan memengaruhi musim kemarau di Indonesia pada periode Juni-September 2024.

El Nino dan La Nina sendiri adalah fenomena alam yang terjadi di berbagai belahan Bumi dan memiliki dampak yang signifikan pada perubahan iklim dan cuaca, termasuk di Indonesia.

Meskipun keduanya merupakan fenomena yang terkait dengan perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda.

Lalu apa perbedaan El Nino dan La Nina?

Perbedaan El Nino dan La Nina

Menurut situs National Weather Service, El Nino adalah fenomena di mana terjadi peningkatan suhu air laut di wilayah Samudra Pasifik.

Sementara La Nina adalah peristiwa alami yang disebabkan oleh interaksi antara permukaan laut dan atmosfer di wilayah Samudra Pasifik.

1. Perbedaan Fasenya

Dari informasi yang dikutip dari situs Earth How, salah satu perbedaan utama antara El Nino dan La Nina adalah fase fenomena keduanya.

El Nino terjadi saat suhu perairan di Samudra Pasifik meningkat, sementara La Nina terjadi saat suhu perairannya mengalami penurunan.

Menurut penelitian oleh Rusydi Ananda dalam bukunya “Ilmu Alamiah Dasar” (2023), di Indonesia, El Nino menyebabkan penurunan curah hujan yang mengakibatkan kekeringan.

Sedangkan saat La Nina terjadi di Indonesia, curah hujan cenderung meningkat.

Namun, pada dasarnya El Nino dan La Nina merupakan fenomena alam yang terjadi secara natural atau alami yang disebabkan interaksi prmukaan laut dengan atmosfer di Samidra Pasifik.

Perlu dicatat bahwa fenomena ini sering disertai dengan pemanasan permukaan laut di Indonesia.

2. Perbedaan Jangka Waktunya

Perbedaan lain antara El Nino dan La Nina adalah durasi terjadinya.

El Nino biasanya berlangsung selama 9 hingga 12 bulan, sedangkan La Nina bisa terjadi selama 1 hingga 3 tahun.

Kedua fenomena ini cenderung dimulai antara bulan Maret hingga Juni dan mencapai puncaknya sekitar bulan Desember hingga April.

Selain mempengaruhi Indonesia, El Nino dan La Nina juga berdampak pada cuaca dan iklim di seluruh dunia, termasuk di Amerika Utara dan Eropa.

Kondisi EL Nino dan La Nina di Indonesia

El Nino dan La Nina
Kondisi El Nino dan La Nina di Indonesia

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan bahwa analisis curah hujan dan sifat hujan untuk tiga dasarian terakhir menunjukkan kondisi kering mulai terjadi di wilayah selatan Khatulistiwa di Indonesia.

Mengenai El Nino-Southern Oscillation (ENSO) pada musim kemarau 2024, ia menyebutkan bahwa fenomena tersebut saat ini diperkirakan berada dalam kondisi netral.

Hingga dasarian II atau sepuluh hari kedua bulan Mei 2024, pemantauan anomali iklim global di Samudra Pasifik menunjukkan indeks El Nino sebesar positif 0,21, yang menunjukkan kondisi netral.

“Indeks netral El Nino telah bertahan dalam kondisi netral selama dua dasarian dan diperkirakan akan tetap netral hingga periode Juni-Juli 2024,” kata Dwikorita dalam konferensi pers daring pada Selasa 28 Mei 2024.

“Kemudian, pada periode Juli, Agustus, September 2024, kondisi ENSO netral akan bergeser menuju fase La Nina lemah yang diperkirakan bertahan hingga akhir tahun 2024,” tambahnya.

Mengenai kemunculan La Nina setelah September 2024, Dwikorita menyatakan bahwa fenomena ini diprediksi tidak akan memengaruhi musim kemarau yang akan datang.

Sementara itu, pemantauan suhu permukaan laut di Samudra Hindia menunjukkan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) netral, meskipun ada kecenderungan menuju IOD positif.

Waspada Kekeringan

El Nino dan La Nina
Waspada Kekeringan, dampak El Nino dan La Nina di Indonesia

Meskipun El Nino dinyatakan netral dan La Nina diprediksi lemah, BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau akan diiringi oleh kekeringan.

Menurut laman BMKG, wilayah yang diprediksi memiliki curah hujan bulanan sangat rendah, di bawah 50 mm per bulan, perlu mendapatkan perhatian khusus untuk mitigasi dan antisipasi dampak kekeringan.

Wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami curah hujan sangat rendah mencakup Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Bali dan Nusa Tenggara, sebagian Pulau Sulawesi, serta sebagian Maluku dan Papua.