Waspada! La Nina Diprediksi Muncul Pertengahan 2024 di Indonesia. Ini Dampaknya

La Nina Diprediksi Muncul Pertengahan 2024 diIndonesia

Infotangerang.id- Masyarakat tengah dihebohkan dengan prediksi Fenomena La Nina yang akan terjadi di pertengahan tahun 2024 cukup mengkhawatirkan publik, mengingat dampak yang ditumbulkan juga berisiko dan membahayakan.

La Nina merupakan fenomena iklim yang terjadi secara periodik di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut yang signifikan.

Fenomena La Nina juga merupakan kebalikan dari El Nino yang dapat memengaruhi pola cuaca global secara dramatis.

Fenomena ini juga dapat mengakibatkan kurangnya potensi pertumbuhan awan di Samudra Pasifik tengah serta meningkatnya curah hujan di wilayah tropis seperti Indonesia.

Sementara El Nino adalah salah satu fenomena yang mampu memicu dampak terhadap cuaca di wilayah yang terdampak.

Screenshot 2024 05 31 094647

Dampak La Nina

Menurut Badan Kelautan Atmosfer Nasional (NOAA), La Nina dopredikasi berpeluang 49 persen untuk dapat muncul dan melanda dunia secara global pada bulan Juni hingga Agustus 2024.

Tak hanya itu, peneliti NOAA juga memperkirakan 85 persen musim di atas normal, 10 persen mendekati normal, dan 5 persen di bawah normal.

Sehingga hal ini dapat mengakibatkan adanya 17-25 badai dengan kecepatan angin 39 mph.

Dari jumlah tersebut, 8-13 badai disinyalir berkekuatan 27 mph dan 4-7 badai berkecepatan 111 mph.

“Kita sudah lihat badai bergerak di seluruh negeri dan dapat membawa bahaya seperti tornado, banjir, hingga hujan es” ujar Erik A. Hooks Wakil Administrator FEMA dikutip dari NOAA.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa La Nina memiliki dampak yang bersifat global seperti peningkatan curah hujan.

Di Indonesia sendiri, fenomena La Nina diprediksi terjadi pada periode Juni-Juli-Agustus dengan ditandai peningkatan curah hujan mencapai 20 persen hingga 40 persen.

Namun di beberapa lokasi dapat lebih besar hingga 50 persen.

Peningkatan curah hujan dan cuaca ekstrem ini juga berdampak terjadinya risiko banjir dan longsor di Indonesia.

Menurut Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyampaikan bahwa pada tahun ini fenomena La Nina tidak diikuti dengan El Nino.

“La Nina tahun ini diprediksi akan terjadi kategori La Nina lemah,” ujar Ardhasena.

Ia menerangkan jika fenomena La Nina ini termasuk dalam kategori lemah, sehingga tidak berdampak pada musim kemarau yang mulai terjadi di sebagian wilayah Indonesia.

Namun Juru Bicara WMO Clare Nullis mengatakan badai dahsyat ini dapat mempengaruhi sektor mulai dari ekonomi hingga pangan.

Dari catatan WMO, Asia menjadi kawasan yang terdampak cukup parah dari adanya badai hal iini dikarenakan tercatat 79 bencana terkait hidrometeorologi dan 80 persen di antaranya terkait dengan banjir dan badai yang menyebabkan 2.000 lebih kematian.

Selain itu, WMO juga menyoroti adanya cairan glester dari pemanasan globa sehingga air di permukaan laut meningkat dan mengancam penduduk di pesisir.

Kemarau basah

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati sebelumnya juga mengungkap musim kemarau kali ini berpotensi basah jika anomali iklim La Nina resmi terjadi.

“Kita belum menyimpulkan seperti itu (akan terjadi La Nina). Ada kecenderungan La Nina meskipun lemah akan terjadi. Tapi itu bisa meleset karena datanya masih kurang, tapi ada tren ke sana,” ujar dia beberapa waktu lalu.

“Jadi kalau seandainya iya, berarti menjadi basah,” tambahnya.

Anomali iklim pemicu kekeringan, El Nino, kini berstatus netral alias berakhir usai terdeteksi setidaknya sejak Juli 2023. Lawannya, La Nina, pun bersiap muncul.

Menurut Dwikorta wilayah yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih basah dari normalnya yaitu sebanyak 40 persen dari ZOM. Daerah-daerah tersebut meliputi sebagian kecil pesisir selatan Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian Kalimantan Barat.

Kemudian, sebagian Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur, sebagian kecil Kalimantan Utara, bagian selatan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, bagian utara dari Gorontalo dan Sulawesi Utara, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat dan sebagian besar Papua Selatan.

Baca berita lainnya di Infotangerang dan Tangselife

1 Komentar

Sudah ditampilkan semua

Komentar ditutup.