INFOTANGERANG.ID- Tanpa disadari, miom dan kista bisa tumbuh di dalam rahim dan baru terdeteksi ketika menimbulkan keluhan.
Meski umumnya tidak bersifat ganas, keberadaan keduanya tetap perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi kualitas hidup hingga kesuburan wanita.
Menurut dr. Budi Santoso, Sp.OG, FMAS, Dokter Spesialis Kandungan Eka Hospital BSD, miom dan kista adalah kondisi yang cukup sering ditemui pada wanita usia produktif, terutama saat keseimbangan hormon sedang aktif-aktifnya.
Bagi sebagian orang, miom dan kista sering dianggap sebagai kondisi yang sama. Padahal, keduanya sangat berbeda dari sisi bentuk maupun asal terbentuknya.
Miom, atau fibroid rahim, merupakan pertumbuhan jaringan otot dan jaringan ikat yang muncul di dinding rahim. Miom bukan kanker dan sebagian besar bersifat jinak.
Sementara itu, kista adalah kantong berisi cairan yang paling sering terbentuk di ovarium. Inilah sebabnya kista kerap disebut sebagai kista ovarium, bukan kista rahim secara langsung.
Singkatnya, miom berbentuk jaringan padat seperti tumor jinak, sedangkan kista berbentuk kantong berisi cairan.
Penyebab Miom dan Kista pada Wanita
Penyebab Miom
Hingga saat ini, penyebab pasti miom belum sepenuhnya diketahui. Namun, peran hormon estrogen dan progesteron diyakini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan miom.
Miom cenderung berkembang pada wanita usia subur dan dapat mengecil secara alami saat memasuki masa menopause, ketika kadar hormon menurun.
Beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko miom antara lain:
- Kelebihan berat badan atau obesitas
- Riwayat miom dalam keluarga
- Belum pernah hamil
- Menstruasi pertama datang terlalu dini
- Menopause di usia yang lebih lambat
- Ketidakseimbangan hormon
Penyebab Kista Ovarium
Berbeda dengan miom, kista ovarium sering kali terbentuk sebagai bagian dari proses ovulasi yang normal. Dalam banyak kasus, kista dapat menghilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.
Namun, ada beberapa kondisi yang membuat kista menjadi lebih persisten, seperti:
- Gangguan pembelahan sel
- Endometriosis
- Sindrom ovarium polikistik (PCOS)
- Penyakit radang panggul
Gejala Miom dan Kista yang Kerap Tak Disadari
Miom dan kista berukuran kecil sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun. Keluhan biasanya muncul ketika ukurannya membesar dan mulai menekan organ di sekitarnya.
Gejala Miom
- Perdarahan di luar siklus menstruasi
- Nyeri hebat saat haid
- Perut bagian bawah tampak membesar
- Rasa kembung dan penuh di perut
- Sering buang air kecil
- Nyeri saat berhubungan intim
- Nyeri punggung bawah
- Sembelit dan rasa tertekan di area panggul
Gejala Kista
Sementara gejala kista ovarium dapat berupa:
- Nyeri panggul atau punggung bawah
- Perasaan penuh di perut bawah, terutama di satu sisi
- Nyeri saat menstruasi atau berhubungan seksual
- Siklus haid tidak teratur
- Anyang-anyangan atau sembelit
Dampak Miom dan Kista terhadap Kesuburan
Sebagian besar miom tidak secara langsung menyebabkan infertilitas. Namun, pada kondisi tertentu, miom dapat memengaruhi jalannya kehamilan, seperti meningkatkan risiko kelahiran prematur atau gangguan pertumbuhan janin.
Kista ovarium, terutama yang berkaitan dengan PCOS, dapat menurunkan peluang kehamilan karena mengganggu proses pematangan sel telur.
Karena itu, pemeriksaan sejak dini sangat disarankan, terutama bagi wanita yang sedang merencanakan kehamilan.
Bisakah Miom dan Kista Dicegah?
Karena penyebab pastinya belum diketahui, tidak ada cara yang benar-benar dapat mencegah miom dan kista. Meski begitu, risiko kemunculannya bisa ditekan dengan beberapa langkah sederhana:
- Menjaga berat badan ideal
- Mengelola keseimbangan hormon
- Rutin menjalani pemeriksaan panggul
- Mengikuti anjuran dokter terkait terapi hormonal bila diperlukan
Segera konsultasikan ke dokter bila tidak menstruasi lebih dari tiga bulan, menstruasi sangat nyeri, panjang, atau berlebihan, perdarahan di luar siklus haid, nyeri perut berkepanjangan, perut terasa penuh dan tertekan dan nyeri panggul atau saat berhubungan intim.
Tidak semua miom dan kista memerlukan operasi. Dalam banyak kasus, dokter hanya akan memantau perkembangannya secara berkala. Namun, pemeriksaan rutin tetap menjadi kunci agar kondisi ini tidak berkembang lebih serius.

