INFOTANGERANG.ID- BMKG kembali merilis prediksi cuaca Jabodetabek Minggu, 25 Januari 2026.
Hasil analisis terbaru menunjukkan, hujan masih terjadi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi sepanjang hari.
Cuaca Jabodetabek yang didominasi hujan basah ini dipengaruhi oleh kombinasi sejumlah faktor atmosfer, mulai dari bibit siklon tropis 96S dan 97S, aktifnya gelombang atmosfer Rossby dan Kelvin, hingga kondisi udara yang sangat lembap serta atmosfer yang labil.
Tak hanya itu, seruakan dingin (cold surge) dari Benua Asia turut memperkuat potensi hujan di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Pulau Jawa.
Prediksi Cuaca Jabodetabek 25 Januari 2026
Berdasarkan keluaran model Digital Forecast BMKG, berikut prakiraan cuaca untuk periode Minggu, 25 Januari 2026.
- Jakarta Pusat
- Jakarta Barat
- Jakarta Selatan
- Jakarta Timur
- Jakarta Utara
- Kepulauan Seribu
- Kabupaten Bekasi
- Kota Bekasi
- Kota Depok
- Kabupaten Bogor
- Kota Bogor
- Kota Tangerang
- Kota Tangerang Selatan
- Kabupaten Tangerang
Meski didominasi hujan ringan, BMKG menegaskan masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan, mengingat perubahan cuaca dapat terjadi secara cepat, terutama pada siang hingga malam hari.
Ancaman Cuaca Ekstrem Masih Mengintai
Dalam skala regional, BMKG mencatat adanya Siklon Tropis Nokaen di wilayah Laut Filipina, tepatnya di utara Maluku Utara.
Sistem ini diprakirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum mencapai 35 knot dan tekanan udara sekitar 1000 hPa, bergerak ke arah Timur Laut. Keberadaan siklon ini berpengaruh terhadap pola angin di wilayah utara Indonesia bagian timur.
Selain itu, Bibit Siklon Tropis 97S juga terpantau bergerak secara persisten dengan kecepatan angin maksimum 20 knot dan tekanan udara 1000 hPa.
Bibit ini membentuk daerah konvergensi dan konfluensi angin yang memanjang dari Pulau Timor, Laut Timor, hingga Laut Arafura. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah sirkulasi siklonik.
Tak kalah penting, BMKG juga mendeteksi penguatan monsun dingin Asia. Fenomena ini ditandai oleh perbedaan tekanan udara yang signifikan dari wilayah Gushi, disertai peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan. Dampaknya, aliran udara dingin dari Asia lebih mudah melintasi ekuator melalui Selat Karimata.
Kombinasi faktor global dan regional tersebut berkontribusi pada peningkatan potensi cuaca ekstrem, khususnya di Sumatera bagian selatan dan Pulau Jawa, termasuk Jabodetabek.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir, genangan, dan gangguan aktivitas harian.
“Selalu perbarui informasi cuaca dari sumber resmi dan siapkan langkah antisipasi, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir,” demikian imbauan BMKG.

