INFOTANGERANG.ID- Keputusan Iran menutup Selat Hormuz memicu gelombang kekhawatiran di pasar energi global.

Jalur laut sempit ini bukan sekadar perairan biasa, melainkan jadi wilayah dengan sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasinya setiap hari.

Ancaman pembatasan kapal yang melintas langsung di Selat Hormuz berdampak pada arus perdagangan minyak internasional.

Jika situasi ini berlangsung lama, peta distribusi energi dunia berpotensi berubah drastis.

Menurut laporan Reuters, kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut menerima peringatan radio melalui transmisi VHF dari Garda Revolusi Iran yang menyatakan tidak ada kapal yang diizinkan melewati selat tersebut.

Misi angkatan laut Uni Eropa, European Union Naval Mission Aspides, juga mengonfirmasi adanya peringatan langsung kepada kapal-kapal di wilayah itu.

Mengapa Selat Hormuz Sangat Krusial?

Selat Hormuz menghubungkan negara-negara produsen minyak utama di Teluk seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab ke pasar global melalui Teluk Oman dan Laut Arab.

Sekitar 20 persen pasokan minyak global, setara 21 juta barel per hari, melewati jalur ini.

Gangguan berkepanjangan akan memukul negara-negara importir besar, terutama China yang menjadi pembeli minyak mentah terbesar dunia.

Data 2025 dari Kpler menunjukkan China membeli lebih dari 80 persen ekspor minyak laut Iran.

Rata-rata pembelian mencapai 1,38 juta barel per hari, sekitar 13,4 persen dari total impor minyak laut China.

Minyak Iran memang memiliki pasar terbatas akibat sanksi Amerika Serikat terhadap Teheran.

Karena itu, sebagian besar ekspornya bergantung pada China.

Kilang independen China, yang dikenal sebagai “teapots” dan banyak beroperasi di Provinsi Shandong, menjadi pembeli utama karena harga minyak Iran yang lebih murah.

Namun jika penutupan Selat Hormuz menghambat pengiriman, kilang-kilang tersebut kemungkinan besar akan mencari alternatif pasokan.

Rusia Berpotensi Raih Keuntungan Besar Penutupan Selat Hormuz

Dalam skenario gangguan pasokan Iran, Rusia muncul sebagai kandidat utama pengganti.

Impor minyak Rusia ke China tercatat terus meningkat.

Data Vortexa memperkirakan pengiriman Februari mencapai sekitar 2,07 juta barel per hari, naik signifikan dibanding Januari.

Sementara data awal Kpler menunjukkan angka 2,083 juta barel per hari.

Sejak akhir tahun lalu, China bahkan telah melampaui India sebagai klien utama pengiriman minyak laut Rusia.

Penurunan impor India dipengaruhi sanksi Barat terkait perang di Ukraina dan dinamika hubungan dagang global.

Minyak mentah Urals Rusia juga diperdagangkan dengan diskon menarik terhadap patokan ICE Brent, membuatnya semakin kompetitif dibanding minyak Iran.

Seorang pedagang senior China menyebut kualitas pengolahan minyak Rusia kini relatif lebih kompetitif, terutama jika pasokan Iran terganggu.

Jika pembatasan di Selat Hormuz terus berlanjut, gangguan pasokan bisa mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Negara-negara importir akan menghadapi tekanan biaya energi yang lebih tinggi.

Namun bagi Rusia, kondisi ini justru berpotensi menjadi peluang.

Dengan volume ekspor yang sudah mencetak rekor ke China, pengalihan permintaan dari minyak Iran dapat memberikan tambahan dorongan signifikan bagi pendapatan energi Moskow.

Krisis di Selat Hormuz bukan sekadar isu regional, melainkan titik krusial yang bisa mengubah arah perdagangan minyak global dalam waktu singkat.

Dapatkan Berita Terbaru lainya dengan Mengikuti Google News Infotangerang
sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Infotangerang
Follow
Iis Suryani
Editor
Iis Suryani
Reporter