INFOTANGERANG.ID- Menjelang kick off Piala Dunia 2026, aroma kontroversi mulai mengiringi turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.

Isu boikot Piala Dunia 2026 bahkan santer terdengar. Tidak hanya datang dari kalangan politisi, tetapi juga dari figur penting di dunia sepak bola internasional.

Salah satu yang paling vokal menyuarakan boikot Piala Dunia 2026 datang dari Cluade Le Roy, pelatih legendaris asal Prancis.

Sosok yang dikenal luas berkat kontribusinya terhadap perkembangan sepak bola Afrika ini, secara terbuka melontarkan wacana boikot.

Ini merupakan bentuk protes Le Roy terhadap kebijakan politik Amerika Serikat.

Claude Le Roy Serukan Boikot Piala Dunia 2026

Melansir dari media Prancis, L’Equipe, pelatih berusia 77 tahun itu mempertanyakan kelayakan Piala Dunia 2026 digelar di tengah situasi geopolitik yang memanas.

“Saya bertanya-tanya, apakah tidak sebaiknya menyerukan boikot Piala Dunia 2026,” ujar Le Roy.

Sebagai informasi, Piala Dunia 2026 ini dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026, dengan Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai tuan rumah bersama.

Turnamen ini juga akan menjadi yang pertama diikuti oleh 48 negara.

Menurut Le Roy, kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, khususnya terkait pembekuan visa bagi warga dari sekitar 75 negara, telah berdampak langsung pada negara-negara Afrika seperti Senegal dan Pantai Gading.

Terlepas dari sikap keras Le Roy terhadap wacana boikot Piala Dunia 2026 ini tidak luput dari kedekatan emosionalnya dengan Afrika.

Meski lahir di Prancis, sebagian besar karier kepelatihannya dihabiskan di Benua Hitam.

Salah satu pencapaian terbesarnya adalah ketika ia berhasil membawa Kamerun menjuwarai Piala Afrika tahun 1988.

Tidak hanya Kamerun, Le Roy juga melatih sejumlah tim nasional Afrika seperti Senegal, Ghana, RD Kongo, Kongo, hingga Togo.

Rekam jejak panjang tersebut membuat Le Roy merasa memiliki tanggung jawab moral untuk bersuara saat Afrika dirugikan.

Ia menilai kebijakan Trump telah merusak tatanan sosial dan kemanusiaan di Afrika, terutama terkait pembatasan peran organisasi nonpemerintah.

“Dia adalah presiden yang merusak Afrika dengan mematikan semua LSM. Di situlah letak tragedi benua ini,” ucap Le Roy dalam wawancara dengan Le Figaro.

Sindiran untuk FIFA dan Gianni Infantino

Tak berhenti pada kritik politik, Le Roy juga menyinggung hubungan erat antara Presiden FIFA Gianni Infantino dan Donald Trump.

Ia menilai elit sepak bola dunia kini lebih fokus pada kepentingan finansial ketimbang nilai-nilai olahraga.

“Para pemimpin di tingkat tertinggi sepak bola tidak lagi berbicara tentang sepak bola, melainkan hanya soal uang,” tegasnya.

Le Roy mengaku kerap tidak diberi ruang berbicara dalam forum resmi sepak bola Afrika karena pandangannya yang kritis.

Meski begitu, ia memastikan perjuangannya belum berakhir.

Ancaman Boikot Piala Dunia 2026 dari Jerman

Isu boikot Piala Dunia 2026 juga mencuat dari Eropa.

Pemerintah Jerman disebut mempertimbangkan opsi boikot apabila Amerika Serikat benar-benar mengambil alih Greenland, wilayah otonomi Denmark.

Juru bicara kebijakan luar negeri fraksi CDU/CSU, Juergen Hardt, menyebut boikot turnamen bisa menjadi langkah terakhir untuk menekan kebijakan Washington.

“Menolak keikutsertaan dalam turnamen akan dipertimbangkan sebagai langkah terakhir,” ujarnya.

Sebelumnya, wacana serupa juga datang dari 23 anggota parlemen Inggris lintas partai.

Mereka mendesak FIFA agar mengevaluasi peran Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026.

Para politisi tersebut menilai AS seharusnya baru diikutsertakan jika menunjukkan kepatuhan terhadap hukum internasional dan penghormatan terhadap kedaulatan negara lain.

Mereka juga menyoroti dugaan intervensi terhadap urusan internal negara lain sebagai alasan utama.

Dapatkan Berita Terbaru lainya dengan Mengikuti Google News Infotangerang
sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Infotangerang
Follow
Iis Suryani
Editor
Iis Suryani
Reporter