InfoTangerang.id- Beberapa hari belakangan, cuaca di Jabodetabek dan beberapa wilayah Indonesia lainnya terasa panas, bahkan ketika malam hari dan sesudah turun hujan.

Terkait cuaca tersebut, Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat untuk lebih waspada saat keluar rumah.

Ia mengingatkan akan bahaya terpapar sinar matahari secara langsung.

“Yang bahaya itu kan radiasinya kena kita kan bisa menyebabkan mutasi dari genetik kita,” ungkap Budi Sadikin.

Sehingga ia mengimbau masyarakat untuk menggunakan perlindungan saat keluar rumah, saat cuaca panas dan membawa payung saat panas atau hujan.

“Jadi kalau keluar usahakan itu pakai payung, kalau jalannya di tempat yang aman dari matahari, misal panas-panas. Olahraga ya pagi-pagi aja lah,” jelasnya.

Sementara Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Guswanto menjelaskan, bahwa fenomena suhu panas di Indonesia beberapa hari terakhir ini berkaitan dengan posisi Matahari.

“Hal tersebut terjadi karena posisi semu Matahari pada bulan April berada dekat sekitar khatulistiwa dan menyebabkan suhu udara di sebagian wilayah Indonesia menjadi relatif cukup terik saat siang hari,” ujarnya seperti dikutip dari situs resmi BMKG.

Ia menyebutkan fenomena ini tidak terkait dengan heat wave atau gelombang panas karena memiliki karakteristik fenomena yang berbeda.

“Di mana (fenomena cuaca panas ini) hanya dipicu oleh faktor pemanasan permukaan sebagai dampak dari siklus gerak semu Matahari sehingga dapat terjadi berulang dalam setiap tahun,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menerangkan bahwa bulan April merupakan periode peralihan musim, yakni dari musim hujan ke musim kemarau di sebagian besar wilayah di Indonesia.

BMKG pun mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, angin puting beliung, dan fenomena hujan es.

“Salah satu ciri masa peralihan musim adalah pola hujan yang biasa terjadi pada sore hingga menjelang malam hari dengan didahului oleh adanya udara hangat dan terik pada pagi hingga siang hari,” kata Andri.

“Hal ini terjadi karena radiasi Matahari yang diterima pada pagi hingga siang hari cukup besar dan memicu proses konveksi (pengangkatan massa udara) dari permukaan Bumi ke atmosfer sehingga memicu terbentuknya awan,” jelasnya.

Karakteristik hujan pada periode peralihan cenderung tidak merata dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi singkat. Apabila kondisi atmosfer menjadi labil atau tidak stabil maka potensi pembentukan awan konvektif seperti awan Cumulonimbus (CB) akan meningkat. Awan CB inilah yang erat kaitannya dengan potensi kilat/petir, angin kencang, puting beliung, bahkan hujan es.

 

Dapatkan Berita Terbaru lainya dengan Mengikuti Google News Infotangerang
sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Infotangerang
Follow
Nadia Lisa Rahman
Editor