Sinopsis Film “Vina: Sebelum 7 Hari”, Sebuah Cerminan Realita Penegakan Hukum di Indonesia

Poster film "Vina: Sebelum 7 Hari"

Infotangerang.id– Film “VINA Sebelum 7 Hari”, yang diangkat dari kisah nyata pembunuhan sepasanga kekasih korban kekerasan geng motor di Cirebon 8 tahun silam sukses menarik 335.812 penonton dihari pertama penayangan.

Ketika trailer film “Vina: Sebelum 7 Hari” dirilis di kanal YouTube Dee Company, secara cepat film tersebut menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen.

Hal ini tidak lain karena film tersebut diadaptasi dari kisah nyata pembunuhan yang keji yang melibatkan sekelompok geng motor pada tahun 2016 yang lalu.

Film “Vina: Sebelum 7 Hari” disutradarai oleh Anggy Umbara dan dibintangi oleh Nayla Purnama sebagai Vina, Lydia Kandou sebagai nenek Vina, dan Yusuf Mahardika sebagai Zaki.

Penasaran bagaimana sinopsis film tersebut? Berikut rangkumannya:

Sinopsis Film “Vina: Sebelum 7 Hari”

Film ini mengisahkan kembali kisah tragis pembunuhan yang dialami Vina dan kekasihnya, Eky, di Cirebon yang sempat mencuat pada tahun 2016 dan menjadi viral.

Dilansir dari kanal YouTube Dee Company, awalnya jenazah Vina ditemukan di sebuah flyover di daerah Cirebon dan pihak keluarga menduga kematian Vina sebagai korban kecelakaan tunggal.

Namun, ketika nenek Vina memandikan jenazahnya, dia menemukan luka-luka yang mencurigakan pada tubuh Vina.

Nenek Vina mulai mencurigai bahwa kematian Vina bukanlah hasil dari kecelakaan, tetapi sayangnya, tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung dugaan tersebut.

Meskipun begitu, pihak kepolisian yang menangani kasus ini juga mulai merasa ada kejanggalan dan memutuskan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Enam hari setelah kematian tragis pasangan tersebut, teman Vina meminta keluarga Vina untuk berkunjung ke rumahnya.

Namun, pertemuan itu berubah menjadi momen yang mengejutkan ketika teman Vina tiba-tiba terpengaruh oleh kekuatan gaib.

Seseorang atau sesuatu kekuatan gaib yang mengaku sebagai arwah Vina masuk ke dalam tubuh teman Vina yang kerasukan tersebut.
Melalui tubuh teman Vina yang kerasukan, makhluk gaib itu mulai mengungkap kronologi kematian Vina dengan detail yang mengerikan.

Dalam pengakuannya melalui tubuh teman Vina yang kerasukan, makhluk gaib itu mengungkapkan bahwa Vina dan Eky telah menjadi korban serangan dari sekelompok geng motor. Saat itu, Vina dan Eky berhadapan dengan 12 anggota geng motor dan diserang hingga mereka berada di jalan layang Talun.

Eky mengalami serangan yang sangat brutal, begitu juga dengan Vina yang disiksa oleh seluruh anggota geng motor tersebut. Bahkan, mereka melakukan tindakan pemerkosaan terhadap Vina.

Salah satu anggota geng motor, yang bernama Egi dan masih bersahabat dengan Eky, diam-diam jatuh cinta pada Vina. Egi merasa dendam karena ingin hubungan asmara antara sahabatnya, Eky, dan Vina berakhir.

Rasa dendam Egi mencapai puncaknya, dan akhirnya dia melakukan tindakan nekat dengan mengakhiri kehidupan baik Eky dan Vina.

Saksikanlah keseluruhan ceritanya di bioskop, di mana Vina akan membongkar kebenaran yang terpendam sebelum tujuh hari berlalu.

Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan kisah lengkapnya.

Film “Vina : Sebelum 7 Hari”, Bentuk Upaya Penegakan Hukum

Menurut siaran pers dari rumah produksi film pada hari Kamis, CEO dan Produser Dee Company, Dheeraj Kalwani, menyatakan bahwa kesuksesan film ini menimbulkan optimisme terhadap penyelesaian kasus kekerasan geng motor di Cirebon pada tahun 2016.

Dheeraj Kalwani mengatakan bahwa salah satu alasan keluarga setuju untuk membuat film ini adalah karena masih ada tiga pelaku yang belum ditangkap.

Tanpa adanya film ini, khawatirnya orang akan melupakan dan kehilangan minat terhadap kasus tersebut.

Harapannya, dengan film ini, polisi akan terdorong untuk bertindak lebih tegas ketika banyak penonton ikut menyuarakan keadilan untuk Vina.

Selain itu, Dheeraj Kalwani juga berharap bahwa dengan banyaknya penonton yang menyaksikan film ini, akan semakin banyak orang yang ikut mendoakan Vina, korban kekerasan geng motor yang kisahnya diangkat dalam film tersebut.

Sutradara Anggy Umbara menekankan bahwa film ini juga menggambarkan masalah dalam penegakan hukum di Indonesia.

“Di Indonesia, penegakan hukum masih memiliki banyak kelemahan. Melalui film ini, mari kita bangun kesadaran bersama. Mari kita hentikan permasalahan sampai di sini, dan mari kita hindari terulangnya kasus serupa dengan Vina,” katanya.

“Ide utama yang ingin kita sampaikan, terutama kepada pemerintah dan pihak berwenang lainnya, adalah ajakan untuk bersama-sama menjaga keadilan. Mari kita tegakkan hukum secara adil, tanpa pandang bulu, dan tanpa terkecuali,” tambahnya.

Anggy Umbara berharap bahwa melalui film “VINA: Sebelum 7 Hari,” kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sekitar dapat meningkat, dan orang-orang akan lebih sadar untuk membantu mencegah tindakan perundungan.