Gus Baha Ingatkan Pola Makan Bisa Jadi Dosa dan Dimurkai Allah

Infotangerang.id– Gus Baha mengingatkan bahwa pola makan bisa menjadi dosa dan dimurkai oleh Allah SWT.

Secara umum, manusia melakukan dua jenis aktivitas dalam kehidupan sehari-hari: aktivitas duniawi dan aktivitas ukhrowi atau ibadah.

Namun, dalam pandangan Islam, aktivitas duniawi juga dapat dianggap sebagai ibadah, tergantung pada niatnya.

Jika seseorang melakukan aktivitas tersebut dengan niat yang baik dan menganggapnya sebagai bagian dari ibadah, maka aktivitas tersebut dapat dianggap sebagai ibadah dan berpotensi mendapatkan pahala.

Contohnya, ketika seseorang bekerja dengan niat untuk mencari nafkah yang halal dan memberikan manfaat bagi sesama, maka bekerja tersebut menjadi ibadah.

Bahkan menurut pemikiran Gus Baha, seorang ulama ahli fiqih, bahwa ibadah terbaik bagi kaum pria adalah bekerja.

Beliau menyatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda bahwa ibadah terbaik adalah bekerja, yang menunjukkan pentingnya aktivitas bekerja dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk ibadah yang utama.

Namun, di sisi lain, ada aktivitas harian yang mungkin dianggap sepele namun bisa menjadi dosa yang besar dan mendatangkan murka Allah. Salah satunya adalah aktivitas makan.

Bagaimana bisa?

Dalam konteks ini, makan bisa menjadi dosa jika dilakukan dengan cara yang melanggar aturan agama, seperti makan makanan yang haram atau mencari kepuasan jasmani secara berlebihan tanpa memperhatikan kebutuhan spiritual dan etika makan yang diajarkan dalam Islam.

Oleh karena itu, umat Islam diingatkan untuk waspada dan menghindari perilaku makan yang dapat menimbulkan dosa dan membuat Allah murka.

Lalu apa saja ya yang perlu dihindari dan diwaspadai dalam aktivitas makan? Berikut penjelasannya.

Tentang Makan Bisa Jadi Dosa dalam Pandangan Islam

Hakikatnya, manusia membutuhkan makanan dan minuman sebagai kebutuhan primer dalam kehidupan mereka.

Hal terkait mana dan minum juga dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 31, Allah memerintahkan manusia untuk makan dan minum, tetapi juga memperingatkan agar tidak berlebih-lebihan.

Dalam tafsir yang dikemukakan oleh Imam Bukhari, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa makna dari ayat tersebut adalah bahwa manusia diperbolehkan untuk makan, minum, dan berpakaian sesuai kebutuhan mereka, selama mereka menghindari sifat sombong dan perilaku berlebihan.

Artinya, Allah mengizinkan manusia untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, namun dengan tetap menjaga kesederhanaan dan keseimbangan dalam hidup serta menghindari perilaku yang melanggar aturan agama.

Menurut Gus Baha, makanan merupakan kebutuhan hidup, tetapi Islam mengajarkan adab dalam cara melakukannya.

Dalam Islam ditekankan betapa pentingnya memilih makanan yang sehat dan halal. Gus Baha juga menegaskan bahwa umat Islam harus selalu berhati-hati, termasuk dalam urusan makanan.

Islam mengajarkan untuk menikmati nikmat Allah dengan mematuhi aturan agama.

Selain memperhatikan kehalalan dan kesehatan makanan, Islam juga memberikan pedoman tentang tata cara makan.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, seseorang tidak bisa sembarangan dalam menjalankan kebiasaan sehari-hari mereka, termasuk dalam hal makan.

Gus Baha menjadi Wali Jalur Makan dan Minum

gus baha: makan bisa jadi dosa

Ulama Ahli Fiqih tersebut juga pernah bergurau tentang menjadi wali jalur makan dan minum.

Melansir dari Video dikanal Youtube Santri Gayeng berjudul “Gus Baha: Jadi Wali hanya dengan makan”, Gus Baha bercerita bahwa dirinya pernah menjawab pertanyaan dari seorang dosen.

Dalam ceritanya, Gus Baha menyatakan bahwa dosen tersebut meragukan relevansi ayat dalam Al-Qur’an yang membahas makan dan minum.

Karena menurut dosen tersebut hal terkait makan dan minum dianggap sebagai kebutuhan manusia yang jelas-jelas akan dilakukan tanpa perlu diatur dalam Al-Qur’an.

Gus Baha menanggapi dengan mengatakan bahwa terkadang orang melupakan pentingnya makan dan minum karena kebiasaan tersebut dianggap remeh meskipun sangat penting untuk menjaga nyawa.

Menurutnya, hal ini menjadi bahaya karena kebiasaan yang seharusnya menjadi bagian dari tindakan keagamaan menjadi diabaikan.

Gus Baha menekankan bahwa sebagai manusia, kita harus menyadari bahwa menjaga kesehatan dan nyawa melalui makan dan minum adalah hal yang serius, dan kita harus menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan keagamaan kita.

Dalam video tersebut, Gus Baha jug menyampaikan sebuah hadis yang mengungkap betapa mudahnya seseorang menjadi wali di mata Allah.

Hadis tersebut menyatakan bahwa Allah sangat senang saat seorang hamba makan satu suapan saja dan kemudian memuji-Nya.

Menurut Gus Baha bahwa dalam era modern ini, banyak orang mengejar kekayaan materi seperti mobil mewah atau ponsel canggih sebagai standar untuk bersyukur.

Padahal bersyukur seharusnya tidak terkait dengan kepemilikan barang-barang mewah.

Dia menegaskan bahwa makan adalah kebutuhan yang sangat penting, dan kita seharusnya bersyukur atas setiap makanan yang kita terima, tanpa menunggu memiliki barang-barang mewah terlebih dahulu.

Gus Baha menjelaskan bahwa untuk menjadi wali, seseorang hanya perlu bersyukur setiap kali makan.

Dia mengutip contoh pertanyaan kepada seorang raja tentang nilai kekuasaannya dibandingkan dengan sekedar segelas air di padang pasir.

Jawaban raja tersebut menunjukkan bahwa kehidupan sangat bergantung pada air, jauh lebih penting daripada kekayaan atau kekuasaan.

Oleh karena itu, Gus Baha menekankan bahwa kita tidak boleh sombong dengan kekayaan atau kekuasaan yang tidak setara dengan kebutuhan dasar seperti makanan dan minuman.

Dengan demikian, kesimpulannya adalah bahwa ayat dalam Al-Qur’an yang membahas makan dan minum adalah luar biasa dan memiliki kualitas yang sangat tinggi.

Makan berlebihan dianggap lebih buruk daripada neraka.

Gus Baha menjelaskan bahwa Allah memberikan rezeki berupa makanan untuk menjaga kesehatan agar ibadah kita lancar.

Allah memerintahkan kita untuk memilih makanan yang baik dan halal. Gus Baha menekankan bahwa makan berlebihan tidak hanya dapat menyebabkan dosa, tetapi juga tidak baik untuk kesehatan.

Dalam kanal khazanah suaralinggau.com, Gus Baha juga menyatakan bahwa makan berlebihan dapat membuat Allah murka, yang merupakan dosa yang sangat buruk.

Dia menggambarkan bahwa makan berlebihan adalah tindakan yang sangat ekstrem, bahkan lebih buruk daripada neraka.

Oleh karena itu, selain dapat menimbulkan dosa, makan berlebihan juga dapat merugikan kesehatan kita.